Salah dan benar adalah suatu hal melekat pada diri manusia,
dan sesuatu itu benar atau salah adalah relatif, tergantung dari masing-masing
persepsi orang. Mengapa bisa salah dan mengapa bisa benar bisa dijelaskan
melalui filsafat.
Salah dan benar hanya merupakan suatu titik dalam filsafat, karena kedua hal tersebut diposisikan di dalam keseluruhan dari membangun pola pikir berfilsafat dan merupakan suatu yang terstruktur. Poin pentingnya adalah sesuatu hal akan bernilai benar jika sesuai dengan ruang dan waktunya, sedangkan akan bernilai salah jika tidak sesuai ruang dan waktunya.
Misalkan jika seseorang bertanya “dua kali tiga itu berapa?”, kemudian dijawab oleh salah seorang yang lain, “dua belas ribu rupiah.” Jawaban tersebut akan bersifat benar jika konteksnya (pembicaraanya) berada di studio foto, dan akan bernilai salah jika konteksnya berada di kelas saat pembelajaran matematika.
Salah dan benar hanya merupakan suatu titik dalam filsafat, karena kedua hal tersebut diposisikan di dalam keseluruhan dari membangun pola pikir berfilsafat dan merupakan suatu yang terstruktur. Poin pentingnya adalah sesuatu hal akan bernilai benar jika sesuai dengan ruang dan waktunya, sedangkan akan bernilai salah jika tidak sesuai ruang dan waktunya.
Misalkan jika seseorang bertanya “dua kali tiga itu berapa?”, kemudian dijawab oleh salah seorang yang lain, “dua belas ribu rupiah.” Jawaban tersebut akan bersifat benar jika konteksnya (pembicaraanya) berada di studio foto, dan akan bernilai salah jika konteksnya berada di kelas saat pembelajaran matematika.