Rabu, 30 Desember 2015

Reduksi vs ekstensif



(Refleksi pertemuan 2 desember 2015 )

         Pada perkuliahan kali ini, masih diawali dengan tes jawab singkat, namun pertanyaan yang diberikan dua kali lebih banyak dari biasanya. Dan hasil akhirnya pun rata-rata juga nol.
         Pada perkuliahan ini pula kita disadarkan bahwa sesungguhnya berfilsafat adalah olah pikir kita, tentang yang ada dan yang mungkin ada. Dan untuk menjelaskan apa hasil olah pikir kita harus dijelaskan sejelas-jelasnya, dan dalam mengolah pikiran kita pun dapat memanfaatkan pengetahuan yang kita miliki sebelumnya. Hal tersebut sangat bertentangan dengan metode jawab singkat. Selama ini kita tidak sadar dengan hal tersebut, karena kita semua termakan oleh mitos, bahwa berfilsafat adalah tentang tes jawab singkat. Melalui tes jawab singkat tersebut terjadi reduksi besar-besaran dari hasil olah pikir kita. Hal tersebut sangat kontradiksi bahwa sesungguhnya berfilsafat itu adalah tentang meng-ekstensifkan tentang suatu hal yang ada dan yang mungkin ada.

Psikologi dan Filsafat



( Refleksi pertemuan 30 Desember )

       Psikologi dan Filsafat merupakan dua hal yang berbeda. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia. Sedangkan filsafat adalah tentang keseluruhan fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dengan konsep yang mendasar.  Cakupan permasalahan dalam filsafat lebih luas daripada psikologi. Karena filsafat juga mencakup hal-hal yang bersifat metafisik.
      Psikologi mengatur tentang perilaku manusia, tidak boleh ....;  jangan melakukan .....
Namun jika dalam filsafat, maka kita andaikan bahwa....;  jika ..... . Dari situ jelaslah bahwa berfilsafat adalah suatu aktivitas olah pikir manusia, kemudian hasil pemikiran tersebut dibuktikan/direalisasikan dengan suatu tindakan.

Tentang Auguts Comte


(Refleksi tambahan)

          Auguste Comte, seorang filsuf Prancis yang  lahir di Montpellier, Perancis 17 Januari 1798. Yang terkenal dari August Comte adalah tentang  ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah  dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.
Pada tahun Comte 1830 membuat tulisan  mengenai “Filsafat Positiv” (Cours de Philosophie Positiv).  Comte dengan kesadaran penuh berpendapat bahwa akal budi manusia terbatas, dan mencoba mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar  pada persepsi dan penyelidikan ilmiah. Tiga hal ini dapat menjadi ciri pengetahuan seperti apa yang sedang Comte bangun, yaitu:
1. Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan,
2. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan
3. Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-
    hukum  itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.
          Positivisme sendiri adalah faham filsafat, yang lebih cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Comte juga berusaha untuk mengembangan kehidupan manusia dengan menciptakan sejarah baru, yaitu dengan merubah pemikiran-pemikiran yang sudah membudaya, tumbuh dan berkembang pada masa sebelum Comte hadir. Dengan keahlian yang dimiliki Comte, dia mencoba untuk  mendekonstruksi pemikiran yang sifatnya abstrak (teologis) maupun pemikiran yang penjelasan-penjelasannya spekulatif (metafisika).
       Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai hukum tiga tahap . Hukum tiga tahap ini menceritakan sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte.
       Yang pertama adalah tahapan teologis, terfokus pada masyarakat primitif  yang hidupnya masih menjadi objek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh di dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam setiap aktivitasnya.
       Yang kedua adalah tahap metafisika / tahap transisi . Tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir!”  merupakan salah satu contoh dari metafisika yang  ditemukan dalam aktivitas setiap hari.
      
Tahap positiv, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya bila kita memperhatikan adanya pelangi meskipun tidak hujan sama sekali sebelumnya. Pelangi tidak hanya gejala alam, namun dapat disengaja tentang adanya pelangi tersebut, yang dapat dibuat dari pembiasan sinar melalui air dengan bantuan cermin.

:: direfleksikan dari berbagai sumber

Tentang filsafat



(Refleksi 4 November 2015)

 

       Gambar diatas merupakan semua istilah-istilah yang ada dalam filsafat. Pokok dari filsafat adalah segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki 2 macam bentuk, yaitu tetap (adalah aliran Permendites) dan berubah (Hermedictos). Tetap karena konsisten terhadap ruang dan waktu, sedangkan berubah karena mengalami perkembangan sertat tidak knsisten terhadap ruang dan waktu.
        Terdapat pula 2 macam aliran yang sangat berlawanan dalam filsafat, yaitu aliran Plato dan Aristoteles. Filsafat tentang Plato adalah tentang sifat manusia yang idealis. Sedangkan Aristoteles adalah tentang sifat manusia yang realis. Sifat manusia yang menganut aliran Plato beranggapan bahwa segala sesuatunya yang telah/akan terjadi berdasar dari ide/hasil pemikiran manusia. Sedangkan  Aristoteles segala sesuatunya akan benar jika sesuai dengan kenyataannya/realitanya. Ada berbagai istilah yang ada dari filsafat itu sendiri, yang berhubungan dengan ke-Esaan, pengetahuan, dan lain sebagainya.
       Tentang perjalanan filsafat ternyata sangat panjang, ada suatu masa pada zaman lampau dimana filsafat berada dalam dunia yang hitam. Namun itu pun hanya sementara, dan filsafat memulai dengan lembaran barunya, yaitu filsafat modern. Filsafat modern, adalah Kant tokoh yang terkenal pada masa itu.