Rabu, 30 Desember 2015

Tak mampu kuungkap semua



( Refleksi 28 Oktober )

            Dalam kuliah filsafat kali ini ada sebuah pernyataan yang kiranya mampu menarik untuk dipikirkan secara lebih mendalam.  Tentang sulitnya pikiran manusia untuk menggapai hati serta pikiran manusia yang  juga sulit untuk diungkapkan.  Hal tersebut sering kali kita alami, entah dalam kejadian atau moment apapun.
          Persoalan yang ada pada filsafat terdapat dua macam, yaitu tentang menjelaskan apa yang kita ketahui kepada orang lain, dan yang kedua adalah memahami yang ada diluar pikiranmu. Persoalan tersebut masih ada dari awal jaman hingga sekarang, dan hingga sekarang pun belum ada yang mampu meyelesaikan persoalan tersebut dengan hasil yang memuaskan. Mereka yang mencoba untuk menyelesaikan persoalan tersebut pun menggunakan dasar teori berpikir, karena bersangkut paut dengan hakikinya/ ontologinya.
         Manusia pada hakikatnya memiliki sifat yang terbatas, karena keterbatasan dari sifat yang dimiliki manusia tersbut maka apa yang ada di dalam pikirannya tidak mampu untuk diungkap semuanya, apa yang dirasakannya tak mampu untuk diungkapkan. Pikiran dan hati manusia itu luas, bahkan lebih luas dari laut ataupun samudra. Hati itu seluas ciptaan Tuhan jika dikehendaki oleh hati. Namun karena keterbatasan yang dimiliki oleh manusia seperti itu, maka manusia tidak mampu memikirkan semua isi hati, tidak mampu mengucapkan semua pikiran, dan tidak mampu menuliskan semua ucapan.
       Bagaimana jika manusia mampu mengungkapkan semua pikiran dan isi hatinya? Yang ada manusia hanya terlalu fokus pada persoalan hidupnya, dan mengabaikan hal-hal lain yang ada diluar pikirannya. Melalui keterbatasan yang dimiliki oleh manusia, manusia dapat menemukan hidupnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar