( Refleksi 28 Oktober )
Dalam
kuliah filsafat kali ini ada sebuah pernyataan yang kiranya mampu menarik untuk
dipikirkan secara lebih mendalam.
Tentang sulitnya pikiran manusia untuk menggapai hati serta pikiran
manusia yang juga sulit untuk
diungkapkan. Hal tersebut sering kali
kita alami, entah dalam kejadian atau moment apapun.
Persoalan
yang ada pada filsafat terdapat dua macam, yaitu tentang menjelaskan apa yang
kita ketahui kepada orang lain, dan yang kedua adalah memahami yang ada diluar
pikiranmu. Persoalan tersebut masih ada dari awal jaman hingga sekarang, dan hingga
sekarang pun belum ada yang mampu meyelesaikan persoalan tersebut dengan hasil
yang memuaskan. Mereka yang mencoba untuk menyelesaikan persoalan tersebut pun
menggunakan dasar teori berpikir, karena bersangkut paut dengan hakikinya/
ontologinya.
Manusia
pada hakikatnya memiliki sifat yang terbatas, karena keterbatasan dari sifat
yang dimiliki manusia tersbut maka apa yang ada di dalam pikirannya tidak mampu
untuk diungkap semuanya, apa yang dirasakannya tak mampu untuk diungkapkan.
Pikiran dan hati manusia itu luas, bahkan lebih luas dari laut ataupun samudra.
Hati itu seluas ciptaan Tuhan jika dikehendaki oleh hati. Namun karena
keterbatasan yang dimiliki oleh manusia seperti itu, maka manusia tidak mampu
memikirkan semua isi hati, tidak mampu mengucapkan semua pikiran, dan tidak
mampu menuliskan semua ucapan.
Bagaimana
jika manusia mampu mengungkapkan semua pikiran dan isi hatinya? Yang ada
manusia hanya terlalu fokus pada persoalan hidupnya, dan mengabaikan hal-hal
lain yang ada diluar pikirannya. Melalui keterbatasan yang dimiliki oleh
manusia, manusia dapat menemukan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar