(Refleksi tambahan)
Auguste Comte,
seorang filsuf Prancis yang lahir
di Montpellier, Perancis 17 Januari 1798. Yang
terkenal dari August Comte adalah tentang
ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte
membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah
dalam ilmu sosial
sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.
Pada tahun Comte 1830 membuat tulisan mengenai “Filsafat Positiv” (Cours de
Philosophie Positiv). Comte dengan
kesadaran penuh berpendapat bahwa akal budi manusia terbatas, dan mencoba
mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar pada
persepsi dan penyelidikan ilmiah. Tiga hal ini dapat menjadi ciri pengetahuan
seperti apa yang sedang Comte bangun, yaitu:
1. Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan,
2. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan
3. Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-
hukum itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.
1. Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan,
2. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan
3. Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-
hukum itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.
Positivisme sendiri adalah faham filsafat, yang lebih cenderung
untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh
dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Comte juga berusaha untuk mengembangan
kehidupan manusia dengan menciptakan sejarah baru, yaitu dengan merubah
pemikiran-pemikiran yang sudah membudaya, tumbuh dan berkembang pada masa
sebelum Comte hadir. Dengan keahlian yang dimiliki Comte, dia mencoba untuk mendekonstruksi pemikiran yang sifatnya
abstrak (teologis) maupun pemikiran yang penjelasan-penjelasannya
spekulatif (metafisika).
Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah
dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga tahap” . Hukum tiga
tahap ini menceritakan sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari
observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte.
Yang pertama adalah tahapan teologis, terfokus pada
masyarakat primitif yang hidupnya masih menjadi objek bagi alam, belum
memiliki hasrat atau mental untuk menguasai alam atau dapat dikatakan belum
menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk
pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada
roh-roh di dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur
kehendak manusia dalam setiap aktivitasnya.
Yang kedua adalah tahap metafisika / tahap transisi . Tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir!” merupakan salah satu contoh dari metafisika yang ditemukan dalam aktivitas setiap hari.
Tahap positiv, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya bila kita memperhatikan adanya pelangi meskipun tidak hujan sama sekali sebelumnya. Pelangi tidak hanya gejala alam, namun dapat disengaja tentang adanya pelangi tersebut, yang dapat dibuat dari pembiasan sinar melalui air dengan bantuan cermin.
Yang kedua adalah tahap metafisika / tahap transisi . Tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir!” merupakan salah satu contoh dari metafisika yang ditemukan dalam aktivitas setiap hari.
Tahap positiv, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya bila kita memperhatikan adanya pelangi meskipun tidak hujan sama sekali sebelumnya. Pelangi tidak hanya gejala alam, namun dapat disengaja tentang adanya pelangi tersebut, yang dapat dibuat dari pembiasan sinar melalui air dengan bantuan cermin.
:: direfleksikan dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar