Rabu, 30 Desember 2015

Tentang Auguts Comte


(Refleksi tambahan)

          Auguste Comte, seorang filsuf Prancis yang  lahir di Montpellier, Perancis 17 Januari 1798. Yang terkenal dari August Comte adalah tentang  ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah  dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.
Pada tahun Comte 1830 membuat tulisan  mengenai “Filsafat Positiv” (Cours de Philosophie Positiv).  Comte dengan kesadaran penuh berpendapat bahwa akal budi manusia terbatas, dan mencoba mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar  pada persepsi dan penyelidikan ilmiah. Tiga hal ini dapat menjadi ciri pengetahuan seperti apa yang sedang Comte bangun, yaitu:
1. Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan,
2. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan
3. Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-
    hukum  itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.
          Positivisme sendiri adalah faham filsafat, yang lebih cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Comte juga berusaha untuk mengembangan kehidupan manusia dengan menciptakan sejarah baru, yaitu dengan merubah pemikiran-pemikiran yang sudah membudaya, tumbuh dan berkembang pada masa sebelum Comte hadir. Dengan keahlian yang dimiliki Comte, dia mencoba untuk  mendekonstruksi pemikiran yang sifatnya abstrak (teologis) maupun pemikiran yang penjelasan-penjelasannya spekulatif (metafisika).
       Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai hukum tiga tahap . Hukum tiga tahap ini menceritakan sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte.
       Yang pertama adalah tahapan teologis, terfokus pada masyarakat primitif  yang hidupnya masih menjadi objek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh di dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam setiap aktivitasnya.
       Yang kedua adalah tahap metafisika / tahap transisi . Tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir!”  merupakan salah satu contoh dari metafisika yang  ditemukan dalam aktivitas setiap hari.
      
Tahap positiv, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya bila kita memperhatikan adanya pelangi meskipun tidak hujan sama sekali sebelumnya. Pelangi tidak hanya gejala alam, namun dapat disengaja tentang adanya pelangi tersebut, yang dapat dibuat dari pembiasan sinar melalui air dengan bantuan cermin.

:: direfleksikan dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar