Selasa, 19 Januari 2016

Ketika kuberpikir

(Refleksi UAS Filsafat Ilmu)

·         Berpikir agar manusia hidup
Berpikir adalah aktivitas manusia yang tak akan terhenti, selalu saja terjadi bahkan saat manusia enggan untuk berpikir, ada-ada saja suatu hal yang harus untuk dipikrkan. Bahkan ketika raga sedang berada di kampus mengikuti perkuliahan, pikiran malah melalang buana, memikirkan sesuatu hal di luar materi perkuliahan. Setiap manusia dibekali potensi berpikir, berpikir tentang hal simple hingga hal yang rumit. Berpikir itupula lah yang menjadi ciri khas manusia hidup. Awal hari ketika bangun dari tidur kita, maka pikiran kita mulai untuk memikirkan suatu hal,memikirkan apa yang akan dilakukan setelah bangun, apa yang akan dilakukan pada hari ini, dll. Dan ketika manusia tertidur pulas, maka disaat itulah pikiran kita terhenti, sedangkan otak dan organ-organ vital manusia masih tetap terjaga dan bekerja.
Lalu seperti apa jika manusia tidak bepikir?
Untuk manusia yang enggan untuk berpikir, apa tujuan hidup mu? Namun jika kita lihat disekitar sebenarnya tidak ada manusia yang tidak berpikir. Karena banyak hal disekitar manusia yang dapat dijadikan objek pikir manusia.
Ketika manusia sedang berdoa kepada Tuhan, apakah pikirannya sedang bekerja?
Berdoa adalah komunikasi manusia kepada Tuhan, yang mana dengan doa kita bisa mengucap syukur, memohon ampun dan memohon pertolongan dan permohonan. Namun doa yang baik, yang akan didengaroleh Tuhan adalah doa yang diucapkan/dilakukan dengan kerendahan hati, dan ketika berdoa pun pikiran kita hanya fokus dengan doa itu sendiri, fokus kepada Tuhan, sehingga ketika berdoa kita meninggalkan segala pikiran duniawi kita.
Lalu apa sajakah yang dipikirkan oleh setiap manusia?
Tentu banyak hal yang dipikirkan, seperti contoh orang tua kita, apakah mereka hanya memikirkan dirinya saja. Tentunya tidak, setiap harinya pasti dia memikirkan keluarganya, terlebih memikirkan anak-anaknya, memikirkan tentang kehidupan keluarganya, memikirkan tentang tanggung jawabnya dalam pekerjaannya, memikirkan tentang masa depan keluarga dan anak-anaknya, dan masih banyak hal yang lain. begitu pula dengan seorang mahasiswa yang sedang merantau ke Jogja untuk menempuh pendidikan. Apa yang dipikirkan tidak hanya tentang tugas-tugas kuliahnya saja, namun memikirkan juga keadaan orang tuanya yang sedang jauh disana, memikirkan tentang sosialisasinya di lingkungan kampus atau lingkungan tempat tinggalnya, yang mana apa yang dipikirkan itu berpengaruh mengenai kehidupannya ke depan.
·         Apa yang ada dalam pikiranku
Segala macam hal bisa ada di dalam pikiran kita. Saat ini saya sedang memikirkan kedua orang tua ku, itu artinya kedua orang tua ku berada di dalam pikiranku, meskipun kedua orang tua sedang berada di jauh disana. Ketika orang lain membicarakan tentang handphone yang terbaru, maka akupun dapat segera memikirkannya, karena aku pernah melihat fisik dari handphone tersebut, sehingga handphone tersebut berada didalam pikiran ku. Namun ketika aku berbicara dengan teman yang dari jurusan tekhnik informatika, ketika dia membicarakan tentang grafis atau vga akupun tak mampu untuk memikirkannya, karena aku sama sekali belum pernah melihat fisik dari apa yang dibicarakan tadi, sehingga benda-benda tersebut tak ada didalam pikiran ku. Namun ketika aku berusaha ingin tahu tentang benda-benda tersebut, maka akhirnya dapat ku pikirkan.
Apa yang ada di dalam pikiran kita, orang lain belum tentu mampu untuk mengetahuinya. Sehingga terkadang jika ada seorang perempuan yang memikirkan sesuatu hal, dan dia meminta lelakinya (pacarnya) mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, tanpa perempuan tadi memberitahu apa yang sedang dipikirkan, dikarenakan mungkin malu, atau dia berharap lelakinya itu peka terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Namun pada kenyataannya lelakinya tak mampu untuk mengetahui apa yang dipikirkan perempuannya itu, sehingga terjadilah pertengakaran diantara mereka.
Dengan komunikasi serta interaksi satu sama lain, maka kita pun dapat mengerti apa yang dipikirkan oleh orang lain, begitu pula orang lain mampu untuk tau apa yang kita pikirkan. Seperti dalam  filsafat, dengan komunikasi dengan para filsuf, maka kita pun dapat mengetahui apa yang dipikirkan oleh mereka, melalui bahasa analog yang digunakan para filsuf.
Tentang hermenetika kehidupan, adalah ketika setiap manusia mampu untuk saling menerjemahkan dan diterjemahan. Setiap manusia mampu untuk menerjemahkan apa yang dipikirkan orang lain, begitu pula apa yang kita lakukan berdasarkan apa yang ada di dalam pikiran kita ini juga mampu diterjemahkan oleh orang lain. Misalnya di dalam pembelajaran dikelas, guru sebisa mungkin agar apa yang dilakukannya dalam pembelajaran mampu diterima serta diterjemahkan oleh siswa dengan baik. Namun sebelum guru mampu diterjemahkan dengan baik oleh siswanya, maka guru pun harus mampu menerjemahkan keadaan / kondisi/ kemampuan siswa, sehingga ketika merancang pembelajaran guru menyesuaikan dengan kondisi siswa, dan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, serta siswa dapat memahami pembelajaran dengan baik sesuai dengan kemampuannya.
Begitu pula pada kehidupan kita sehari-hari, jika setiap orang dikuasai oleh ego nya sehingga setiap orang hanya ingin diterjemahkan, tanpa mau untuk menerjemahkan, maka yang ada kehidupan manusia tidaklah harmonis, bahkan tidak tercipta suatu interaksi antara manusia satu dengan yang lain.
·         Ikhlas pikir
Ikhlas pikir, seperti apa itu ikhlas pikir? Bahkan mengukur keikhlasan orang lain atau keikhlasan yang kita lakukan pun tidak mampu. Namun sesungguhnya keiklhasan itu adalah ketika kita melakukan suatu hal tanpa ada unsur paksaan. Misalkan dalam perkuliahan filsafat, sang dosen memberi tugas kepada semua mahasiswanya untuk membaca, memahami serta mengomentari postingan yang ada di dalam blog. Dan sebagai mahasiswa yang menyadari akan tanggung jawabnya maka akan melaksanakan tugas tersebut dengan ikhlas, tanpa ada suatu paksaan.  Tak hanya ketika kita melakukan suatu hal, ketika kita menerima suatu hal pun keikhlasan juga ikut berperan. Terlebih dalam menerima suatu kenyataan hidup / takdir. Segala kehidupan manusia sudah diatur oleh sang Pencipta, maka selayaknya kita manusia untuk dapat menerima takdir tersebut dengan keikhlasan. Namun satu hal yang saya pahami adalah jika segala sesuatu yang kita lakukan didasari dengan keikhlasan maka akan terlihat lebih mudah, seperti diberikan petunjuk / jalan / kemudahan dalam melakukannya, serta buah / hasil dari apa yang kita lakukan itu juga indah. 

·         Berpikir namun sesungguhnya berfilsafat
Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa berfisafat adalah tentang olah pikiran kita.  Segala macam yang ada disekitar kita dapat dijadikan sebagai objek pikir kita. Bahkan hal-hal yang bersifat metafisik pun dapat kita jadikan objek pikir. Mengungkap hal-hal yang bersifat metafisik adalah karakteristik dari filsafat itu sendiri. Jika orang awam yang tidak mendalami filsafat maka tak pernah terpikirkan olehnya mengenai hal-hal yang bersifat metafisik tersebut, apa yang dipikirkan tidak sedalam pemikiran para filsuf. Metafisik itu sendiri adalah tentang yang mengungkap suatu realitas, yang menjelaskan hakikat dari suatu objek. Berfilsafat berarti memikirkan suatu hal secara lebih mendalam, yang kita ketahui sebelumnya tentang suatu hal, namun ketika kita sudah berkenalan dengan dunia filsafat, maka akan tercipta suatu pengetahuan yang baru, yang dirasa cukup aneh namun itu memang logis dan sesuai dengan realitasnya. Dan itulah filsafat, mampu membuka pikiran kita menjadi lebih terbuka untuk memandang bahkan menilai tentang sesuatu hal yang ada disekitar kita. Dengan mengenal filsafat maka kita mampu menjelaskan sesuatu hal secara ekstensif, namun terkadang karena sesuatu hal maka kita pun menjadi reduksionis, sedangkan reduksi itu sendiri adalah ‘musuh’ terbesarnya filsafat. Reduksi sering terjadi dalam kehidupan kita, dan dirasa cukup bermanfaat untuk dipergunakan. Namun bukan berarti kita dapat mereduksi hal secara berlebihan, akan lebih baik jika mereduksi suatu sesuai dengan porsinya, dan sesuai dengan ruang dan waktunya, serta tanpa mengubah makna dari hal tersebut. Seperti contoh kita diminta untuk menjelasakan tentang diri kita sendiri, maka dapat kita jelasakan secara panjang dan lebar dan terdapat berjuta-juta kata bahkan lebih untuk dapat menggambarkan diri kita, disaat itulah kita dapat mereduksi dari apa yang kita tahu tentang diri kita. Karena adanya suatu keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing individu yang mampu membuat manusia menjadi reduksionis.

·         Antara apa yang kupikirkan dengan yang kuucapkan
Apa yang kita ucapkan adalah hasil olah pikir kita. Namun segala yang kita pikirkan belum tentu dapat kita ucapkan semuanya. Ada berbagai macam hal yang membuat kita tak mampu untuk mengungkap semuanya. Yang pertama adalah karena manusia itu sndiri adalah seorang reduksionis, sehingga secara sengaja dia membatasi apa yang akan dijelaskan tentang hal yang dipikirkannya. Dan yang kedua karena keterbatasan manusia yang dimiliki sehingga tak mampu untuk mengungkapkan semua yang dipikirkan, dalam hal ini adalah suatu ketidaksengajaan.
Bahasa adalah suatu alat untuk dapat mengkomunikasikan pemikiran kita kepada orang lain. Seperti halnya guru dalam mengajar, maka guru akan selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswanya sesuai dengan jenjang pendidikannya.
Seberapa pentingkah mengkomunikasikan hasil pemikiran kita kepada orang lain?
Dirasa sangat penting untuk mengkomunikasikan hasil pemikiran kita, apa yang kita dapatkan melalui indrawi kita, kemudian diolah di dalam pikiran kita, kemudian terciptalah suatu pengetahauan yang baru. Pengetahuan baru dari hasil pemikiran kita merupakan pengetahuan yang subjektif, maka harus kita komunikasikan kepada orang lain untuk mengkonfirmasi apakah pengetahuan yang kita dapatkan dari hasil pemikiran tersebut itu dapat diterima secara umum, dan dapat menjadi pengetahuan objektif.
Pada dasarnya apa yang kita ucapkan bersumber dari pikiran dan hati kita, namun apakah pemikiran kita selalu sesuai dengan hati kita?
Mengenai suara hati menjadi teringat akan lagu dari musisi Nuggie, yang membawakan lagu tentang suara hati. Dalam lagu tersebut menggambarkan bahwa dia membiarkan dirinya mengikuti suara hatinya, seperti contoh selama kuliah dia mengambil jurusan kedokteran, namun ketika lulus dia memutuskan untuk menjadi seorang photografer, karena dia mengikuti suara hatinya. Maka dapat disimpulkan, orang tersebut memiliki kemampuan untuk menjadi seorang dokter namun dia lebih memilih untuk menjadi photografer karena dia merasa nyaman akan profesi tersebut. Apakah bisa kita menyalahkan suara hati? Suara hati yang saya percaya adalah suara dari Tuhan, sehingga apakah bisa kita menyalahkan kehendak dari Tuhan? Namun terkadang kita pun sering mengabaikan suara hati, dimana suara hati kita terkalahkan oleh pikiran logis kita.  

·         Mitos dan logos, antara terhenti dan terus berlanjut.
Logos, adalah suatu hal yang positif bagi kita. Pikiran yang dikuasai oleh logos, berarti kita selalu mengolah pikiran kita, untuk memikirkan suatu hal yang ada disekitar kita. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa dengan selalu mengolah pikiran kita maka akan membentuk pola pikir kita. Tentu akan ada beda ketika ada 2 manusia dengan umur yang sama, dan mereka diminta untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Mereka yang sering mengolah pikiran mereka cenderung lebih jelas dalam membuat solusi dari masalah yang diberikan dibandingkan mereka yang jarang untuk berpikir. Pengalaman yang dimiliki setiap individu juga berpengaruh dalam pola pikirnya. Seperti dalam contoh tadi, pengalaman yang dimiliki juga ikut berperan dalam pemikirannya dalam rangka mencari solusi dari masalah yang diberikan.
Logos memberikan manfaat yang positif bagi manusia, karena dengan logos maka kita selalu terdorong untuk selalu mencari pengetahuan yang baru dan menghasilkan pengetahuan yang baru pula, sehingga potensi yang kita miliki dapat terasah dengan baik. Karena pengetahuan yang ada di dunia ini begitu banyak dan tak terbatas, dan kita pun bebas untuk mencari sekaligus mendalami pengetahuan yang ada tersebut.
Namun tak semua pikiran manusia dikuasai oleh logos, beberapa dari kita masih saja dikuasai oleh mitos. Mitos itu sendiri berlawanan dengan kebenaran.  Pikiran kita dikuasai oleh mitos, berarti pikiran kita terhenti. Jadi ketika kita menerima hal baru kita hanya menerima saja secara mentah-mentah tanpa kita olah menggunakan pikiran kita, dan tanpa kita cari tahu kebenaran yang ada di dalam mitos tersebut.
Banyak sekali mitos yang berkembang di sekitar kita, namun sebenarnya mitos tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah. Itulah yangmembedakan antara logos dan mitos. Ketika kita para logos menerima suatu hal yang bersifat mitos, maka dengan segera dia mencoba membuktikan kebenaran dari mitos tersebut. Namun para logos pun bisa dikuasai oleh mitos, ketika mereka menerima suatu hal yang bersifat mitos namun mereka tetap mempercayainya.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan berhenti untuk memikirkan suatu hal maka dengan mudah mios akan menguasai pikiran kita. Namun jika kita selalu memikirkan tentang suatu hal, maka kitapun terbebas dari mitos. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar