Dalam
sejarah filsafat, awal dari lahirnya filsafat di dunia adalah filsafat Yunani. Saat
itu pula, pada abad ke VI SM munculah para filsuf. Namun objek pikir filsuf
pada saat itu adalah tentang alam (cosmos), sehingga para filsuf tersebut
disebut sebagai filsuf alam. Pokok pikiran para filsuf pada saat itu adalah
memikirkan tentang alam yang besar ini, dari mana asal muasal terbentuknya/terjadinya
alam adalah yang menjadi pokok persoalan mereka. Meskipun yang menjadi pokok
pemikiran mereka adalah tentang alam, namun pada saat itu pemikiran seperti itu
sudah sangat lah maju, kritis dan rasional. Mencoba untuk mengungkap tentang
keberadaan alam yang ada disekitarnya merupakan hal yang tidakbiasa dilakukan
manusia pada saat itu. Orang-orang cenderung menerima begitu saja keadaaan alam
yang terjadi pada saat itu, mereka hanya sekedar melihat, menikmati alam, tanpa
terbesit suatu hal untuk mencoba memikirkan bagaimana asal muasal alam ini. Namun
terdapat beberapa orang pula yang mencoba untuk mencari tahu tentang keberadaan
alam ini hanya dengan membaca atau mendengar keterangan tentang kejadian alam
yang berasal dari cerita turun temurun, seperti mitos, legenda dan cerita nenek
moyang.
Para
filsuf tentu saja tidak puas serta tidak percaya dengan cerita-ceritayang
berkembang begitu saja tanpa adanya
suatu bukti, dan mereka pun menganggap bahwa cerita tersebut tidak masuk akal. Karena
hal tersebut para filsuf berusaha untuk mendapatkan keterangan yang jelas dari
persoalan yang mereka pikirkan tentang inti dasar alam dari daya pikir mereka
sendiri. Sehingga para filsuf pantas jika disebut sebgai pemikir yang radikal,
karena mereka memikirkan suatu hal sampai pada dasar / akar dari apa yang
mereka pikirkan, yaitu tentang alam.
Filsuf
alam pertama mencoba menjelaskan dunia dan
gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar pada mitos melainkan pada pemikiran
manusia adalah Thales. Ia
juga dikenal sebagai salah seorang dari Tujuh Orang Bijaksana (dalam bahasa Yunani hoi hepta sophoi), yang oleh Aristoteles diberi gelar 'filsuf yang pertama'. Selain
sebagai filsuf, Thales juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi,
dan politik.
Thales tidak meninggalkan bukti-bukti
tertulis mengenai pemikiran filsafatnya, namun terdapat pada tulisan
Aristoteles tentang dirinya. Aristoteles
mengatakan bahwa Thales adalah orang yang pertama kali memikirkan tentang asal
mula terjadinya alam semesta. Karena
itulah, Thales juga dianggap sebagai perintis filsafat alam (natural philosophy).
Pemikiran utama
dari Thales adalah bahwa air sebagai prinsip dasar segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari
segala-galanya yang ada di alam semesta. Berkat kekuatan dan daya kreatifnya
sendiri, tanpa ada sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala
bentuk, bersifat mantap, dan tak terbinasakan. Argumentasi Thales terhadap
pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup
mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk
hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair,
dan gas) tanpa menjadi berkurang. Selain itu, Thales juga mengemukakan
pandangan bahwa bumi terletak di atas air. Bumi dipandang sebagai bahan yang
satu kali keluar dari laut dan kemudian terapung-apung di atasnya.
Thales berpendapat
bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di
dalam benda hidup tetapi juga benda mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini
disebut hylezoisme. Argumentasi Thales
didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan
besi.
Thales juga menyumbangkan pemikirannya dalam bidang
geometri, yang dikenal dengan nama teorema Thales, meskipun belum tentu seluruhnya
merupakan buah pikiran aslinya. Teorema Thales berisi sebagai berikut:
|
Jika AC adalah sebuah diameter, maka
sudut B adalah
selalu sudut siku-siku
|
Teorema Thales : DE/BC = AD/AB = AE/AC
|
|
Teorema thales tersebut, hingga saat ini digunakan dalam
materi pembelajaran matematika di SMP.
Sumber :
| ||


